Opini  

Wahana Tanpa Awak Dalam Perencanaan Strategis Pertahanan RI

Wahana Tanpa Awak Dalam Perencanaan Strategis Pertahanan RI

republicberita.com –

Alman Helvas Ali

Alman Helvas Ali

Alman Helvas Ali adalah konsultan defense industry and market pada PT Semar Sentinel, Jakarta sejak 2019 – sekarang dengan tanggungjawab memberikan market insight kepada Original Equipment Manufacturer asing yang dimaksud dimaksud ingin berbisnis di dalam area Indonesia. Sebelumnya pernah menjadi Jane’s Aerospace, Defense & Security, Country Representative – Indonesia pada tahun 2012-2017 yang digunakan mana bertanggungjawab terhadap pengembangan pasar Jane’s dalam Indonesia. Memegang ijazah sarjana aeronautika dari Universitas Suryadarma Jakarta, Alman mempunyai spesialisasi dalam dalam bidang industri pertahanan, pasar pertahanan kemudian kebijakan pertahanan. Sebelum bergabung dengan Jane’s, Alman pernah bekerja pada lembaga think-tank dalam Jakarta yang digunakan digunakan berfokus pada isu pertahanan kemudian maritim. Dapat dihubungi melalui [email protected] serta atau [email protected]

Profil Selengkapnya

Perkembangan lingkungan strategis pada kawasan Indo-Pasifik dewasa ini menunjukkan terus berlanjutnya rivalitas antara Amerika Serikat serta China. Rivalitas yang dimaksud terkait dengan isu Laut China Selatan lalu Taiwan telah terjadi dijalani menjalar tambahan besar luas sehingga menyentuh aspek sektor ekonomi lalu teknologi.

Kedua negara saling menerapkan tarif impor yang mana dimaksud tinggi untuk komoditas-komoditas tertentu. Tidak semata-mata itu, AS serta China sekarang terlibat dalam perang cip seiring pelarangan AS untuk mengekspor cip ke China, sementara kemampuan China untuk memproduksi cip yang tersebut berukuran sangat-sangat kecil ketinggalan dari AS.

Indonesia berada dalam posisi terjepit dalam persaingan dua kekuatan besar tersebut, suatu posisi yang tersebut dimaksud seringkali diingkari oleh para pejabat Indonesia. Di sektor ekonomi, Indonesia menjalin kerja mirip erat dengan China, termasuk memberikan perlakukan khusus kepada masuknya tenaga kerja China ke jenis pekerjaan-pekerjaan yang mana yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia.

Namun karpet merah yang digunakan diberikan oleh Indonesia kepada China tiada ada menghasilkan Negeri Tirai Bambu menghormati kedaulatan lalu hak berdaulat Indonesia dalam Laut China Selatan. Sehingga dalam sektor keamanan, Indonesia mempunyai kerja sebanding keamanan yang digunakan tambahan banyak erat dengan AS, baik kerja identik intelijen, latihan militer secara rutin juga lain sebagainya.

Ketidaknyamanan Indonesia terhadap China tercermin pula dari akuisisi sistem senjata yang digunakan dijalankan selama ini. Apabila memperhatikan secara seksama daftar belanja mesin perang yang dimaksud mana dibiayai oleh Pinjaman Luar Negeri (PLN) sejak 2010 sampai saat ini, pengadaan sistem senjata dari China sangat sedikit dibandingkan dari negara-negara NATO lalu sekutu AS lainnya.

Pengadaan yang tersebut digunakan signifikan cuma pesawat tanpa awak CH-4B juga rudal pertahanan udara titik QW-3. Rencana Indonesia untuk mendatangkan satu unit kapal perusak Type 052 bekas dari China dibatalkan oleh Kementerian Pertahanan tahun ini kemudian juga anggarannya dialihkan bagi pembelian F-15EX dari AS.

Saat ini Indonesia sedang berada pada fase terakhir dari Minimum Essential Force (MEF) 2010-2024. Secara total, pemerintah sudah mengalokasikan PLN sekitar US$50 miliar guna menggalang pengadaan sistem senjata selama 15 tahun terakhir, termasuk US$34,4 miliar pada periode 2020-2024.

TNI Angkatan Laut mendapatkan kuota pinjaman senilai US$8,3 miliar yang digunakan digunakan merupakan alokasi pinjaman terbesar kedua dari lima unit organisasi pada dalam lingkungan Kementerian Pertahanan. Di antara program pengadaan bagi TNI Angkatan Laut yang digunakan tercakup dalam anggaran sebesar US$8,3 miliar adalah pembelian kapal fregat juga juga kapal selam.

Pengadaan kedua tipe kapal perang bersifat kritis di tempat tempat tengah perkembangan lingkungan strategis yang dimaksud penuh tantangan kemudian lambatnya modernisasi kekuatan laut Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu tantangan yang dimaksud itu dihadapi dalam program akuisisi kapal selam sebesar US$2,1 miliar adalah kesediaan galangan kapal asing untuk melakukan kerja serupa industri dengan galangan kapal lokal. Naval Group tetap pada komitmen untuk menjalin kerja mirip industri dengan pihak Indonesia sebagai bagian dari skema transfer teknologi, sementara galangan lainnya dari Eropa enggan untuk mengikuti Naval Group.

Terdapat beberapa alasan mengapa galangan lain enggan menjalin kerjasama, pada antaranya dikarenakan alasan kondisi internal galangan domestik yang tersebut mana dinilai tidaklah memenuhi harapan dari galangan tersebut. Memang harus diakui bahwa kondisi internal galangan lokal selalu menjadi tantangan saat hendak menjalin kerja sejenis dengan galangan luar negeri untuk membangun kapal perang yang mana hal tersebut kompleks.

Memperhatikan tantangan keamanan regional saat ini lalu ke depan, merupakan hal yang dimaksud digunakan tiada dapat dikompromikan bagi Indonesia untuk mempunyai kemampuan peperangan bawah air yang dimaksud tambahan tinggi baik di area area masa depan daripada saat ini.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kemampuan peperangan bawah air tak lagi terbatas pada kapal selam, tetapi pula wahana tidaklah ada berawak seperti Underwater Unmanned Vehicle (UUV) dan juga juga Unmanned Surface Vehicle (USV).

Perang di dalam area Ukraina telah dilakukan lama memberikan contoh betapa wahana seperti USV dapat menjadi senjata mematikan yang dimaksud melumpuhkan kapal perang seperti tipe fregat. Wahana seperti UUV juga juga USV dapat digunakan untuk misi operasi pada wilayah perairan yang cukup beresiko apabila dilaksanakan kapal permukaan atau kapal selam.

Seiring dengan berakhirnya MEF 2020-2024, Kementerian Pertahanan sedang menyusun draf postur pertahanan 2025-2044 yang digunakan yang akan menjadi acuan bagi penyusunan rencana strategis pertahanan, termasuk rencana strategis TNI Angkatan Laut.

Tentu menjadi hal menarik untuk diperhatikan bagaimana draf postur pertahanan hingga 2044 mengantisipasi kemajuan teknologi pertahanan yang akan terus berevolusi, termasuk akan semakin meluasnya pemanfaatan wahana tanpa awak untuk kepentingan militer. Begitu pula dengan bagaimana perencanaan strategis pertahanan diterjemahkan tambahan tinggi lanjut menjadi kegiatan pengadaan sistem senjata, baik yang mana dimaksud memakai PLN maupun Pinjaman Dalam Negeri.

Postur pertahanan jangka panjang ke depan beserta turunannya seperti perencanaan strategis pertahanan hendaknya mengantisipasi pemanfaatan wahana tanpa awak untuk kepentingan pertahanan yang digunakan hal itu dikombinasikan dengan pemakaian wahana berawak. Pola demikian saat ini telah dilakukan lama diadopsi oleh kekuatan pertahanan negara maju, seperti dalam konsep Manned-Unmanned Teaming (MUM-T) yang mana mana diterapkan dalam perang dalam Afghanistan.

Dalam konteks operasi maritim, konsep MUM-T terdiri dari pemanfaatan secara terintegrasi antara wahana berawak seperti kapal permukaan, kapal selam kemudian juga pesawat udara dengan wahana tidaklah berawak seperti UUV lalu USV. Integrasi demikian membutuhkan hadirnya suatu datalink yang dimaksud hal itu dapat diandalkan, dalam arti terenskripsi juga juga aman.

Kehadiran wahana tanpa awak pada pasar pertahanan Indonesia akan sangat tergantung pada kebutuhan pasar. Tanpa adanya kebutuhan pasar dari Kementerian Pertahanan, sulit untuk mengharapkan industri asing untuk menawarkan solusinya kepada Indonesia.

Tanpa kebutuhan pasar pula, sukar bagi industri pertahanan domestik untuk mengembangkan produk-produk wahana tanpa awak, baik secara mandiri maupun lewat kerjasama dengan produsen dari luar negeri. Karena karakteristik pasar pertahanan adalah niche market, maka kebutuhan pasar harus diciptakan oleh pemerintah.

Industri pertahanan nasional dapat menciptakan daya saing pada bidang wahana tanpa awak apabila menguasai teknologi di dalam tempat sektor elektronika pertahanan. Pertanyaannya adalah bagaimana agar dapat menguasai teknologi tersebut?

Salah satu metode adalah menjalin kerja sebanding dengan industri pertahanan asing yang dimaksud mempunyai keunggulan pada sektor elektronika pertahanan, termasuk melalui pembentukan firma joint venture. Industri pertahanan domestik tiada perlu malu untuk belajar dari para pemain global dalam tempat sektor elektronika pertahanan.