Opini  

Trilema Bakal Calon Presiden Indonesia 2024, Trilema Energi

Trilema Bakal Calon Presiden Indonesia 2024, Trilema Energi

republicberita.com –

Huud Alam

Huud Alam

Huud Alam merupakan Enterprise Implementation Specialist di area area Zeroe, sebuah perusahaan rintisan yang digunakan berbasis dalam dalam Abu Dhabi yang dimaksud membantu perusahaan di area tempat Timur Tengah serta Afrika Utara (MENA) untuk mendekarbonisasi perusahaan mereka. Ia memperoleh gelar sarjana pada bidang Teknik Pertambangan dari Institut Teknologi Bandung serta juga gelar master pada bidang Energi Terbarukan dari Newcastle University, Inggris. 
Huud sudah pernah terjadi terlibat dalam proyek-proyek terkait energi, lingkungan, sosial serta perubahan iklim energi, lingkungan, sosial juga perubahan iklim di area area kawasan Asia Pasifik (APAC) sebagai konsultan, pengembangan kegiatan perusahaan kemudian manajer proyek selama lebih lanjut besar dari enam tahun. Ia adalah individu Profesional Keberlanjutan Bersertifikat GRI Professional serta juga salah satu dari 36 Global Future Fellows yang dimaksud mana merumuskan peta jalan transisi energi di dalam area Indonesia.

Profil Selengkapnya

Suasana jelang Pemilihan Umum Presiden kemudian Wakil Presiden 2024 terasa semakin hangat. Masyarakat dihadapkan dengan trilema, bukan semata-mata cuma dilema, mengingat ada tiga sosok akan datang calon presiden yang dimaksud hal tersebut diusung.

Pemaparan gagasan mereka itu dalam tempat Universitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu sukses menjadi sorotan nasional. Isu krusial yang tersebut digunakan diangkat beragam, mulai dari pendidikan, pangan, kesehatan, sampai energi.

Bicara tentang energi, sektor ini memiliki trilema tersendiri. Trilema itu terdiri dari ketahanan energi, kesetaraan energi, kemudian juga keberlanjutan lingkungan.

World Energy Council mendefinisikan ketahanan energi sebagai kemampuan sebuah negara untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini juga masa mendatang. Kesetaraan energi mencakup dimensi penyediaan akses energi yang tersebut dimaksud andal, terjangkau untuk seluruh masyarakat.

Sementara keberlanjutan lingkungan dinilai keberhasilannya dari kemampuan sistem energi suatu negara untuk mengakomodasi transisi ke arah yang mana digunakan lebih lanjut banyak hijau.

Permasalahan Trilema Energi Indonesia Saat Ini
Mengingat pentingnya energi bagi kehidupan manusia, sudah sepatutnya para bacapres miliki menyadari kompleksitas permasalahan tiap pilar dari trilema energi yang digunakan ada dalam Indonesia. Dari sisi ketahanan energi misalnya, Indonesia mempunyai tugas yang mana dimaksud berat sebagai negara penduduk terpadat keempat pada tempat dunia.

Dari data Kementerian ESDM, konsumsi listrik per kapita selama 52 tahun terakhir hampir selalu meningkat tiap tahunnya. Hanya pada tahun 1973, 1976, kemudian 1998 trennya menurun.

Dari sisi komponen bakar minyak (BBM), Indonesia sudah menjadi net importir sejak tahun 2008. Ini berarti total keseluruhan BBM yang tersebut yang disebut dapat disediakan negeri ini tak akan cukup kalau tidaklah mengimpor dari negara lain. Dengan terus bertambahnya total keseluruhan penduduk, semakin pelik juga kesulitan ketahanan energi yang tersebut dimaksud ada.

Sementara itu, sebagai negara kepulauan terbesar di tempat dalam dunia, Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang belum selesai untuk pemberian akses energi yang dimaksud setara kepada rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Menurut data terakhir di dalam area Juni 2023, masih ada 1,2 jt rumah tangga yang dimaksud digunakan belum teraliri listrik, khususnya dalam area daerah Tertinggal, Terdepan, serta Terluar (3T). Ini belum termasuk banyaknya daerah yang tersebut itu belaka menikmati listrik hanya sekali sekali beberapa jam cuma per hari dengan modal genset diesel.

Terakhir, sebagai salah satu negara eksportir terbesar batu bara pada area dunia, Indonesia dihimpit dengan kesulitan pencapaian target transisi energi kemudian isu perubahan iklim. Tak perlu jauh-jauh memverifikasi Indonesia dapat menjadi negara net zero emission di tempat area tahun 2060, ambisi bauran energi baru serta terbarukan sebesar 23% di area tempat tahun 2025 semata masih sangat sangat dari realita.

Ketergantungan negara ini dengan energi fosil ditambah dengan kurangnya lingkungan pendukung untuk energi bersih masih terus menjadi penghalang yang digunakan utama.

Tak mengherankan bila dalam 2022 World Energy Trilemma Index yang dimaksud mana rilis beberapa waktu lalu, Indonesia berada pada urutan 81 dari 125. Peringkat ini cukup mengkhawatirkan mengingat negara tetangga seperti Singapura lalu Malaysia berada dalam area urutan 45 juga 46.

Sejatinya, Indonesia mendapatkan nilai “A” dalam pilar ketahanan energi. Kemungkinan besar nilai itu disebabkan oleh tingginya produksi batu bara lalu gas dalam negeri. Namun, untuk kesetaraan energi serta keberlanjutan lingkungan Indonesia masih mendapatkan nilai “C”, nilai yang dimaksud digunakan tentunya tak dapat dibanggakan.

Menyeimbangkan Trilema Energi
Pada berbagai kesempatan yang tersebut ada, ketiga bacapres sesungguhnya telah lama terjadi memaparkan gagasan serta program mereka itu dalam sektor energi. Ada calon yang mana mana mengusung lima pilar transisi energi untuk mewujudkan energi yang hal tersebut memanusiakan.

Ada pula yang digunakan menawarkan gagasan pengembangan energi hijau juga biru. Sementara calon lainnya turut menegaskan komitmennya untuk tak lagi melakukan impor energi.

Gagasan yang tersebut dimaksud dikeluarkan oleh masing-masing bacapres tentu mengarahkan perubahan sektor energi ke arah yang tersebut dimaksud lebih banyak lanjut baik. Akan tetapi apabila kita berkaca kembali pada konsep trilema energi, maka penyelesaian permasalahan secara holistik untuk ketiga pilar haruslah menjadi fondasi utama dia dalam memformulasi mimpi tentang sektor energi Indonesia di area area lima tahun mendatang.

Tidak dapat satu bacapres belaka sekadar mengumbar-umbar janji kepada kaum milenial dan juga juga Gen Z yang dimaksud digunakan cenderung peduli lingkungan untuk menambah secara radikal total keseluruhan energi terbarukan. Atau misal berkampanye pada tempat daerah-daerah terpencil dengan janji manis listrik dalam desa dia tak akan mati tiap 8 jam sekali.

Apalagi sesumbar berbicara pada berbagai forum akademisi serta profesional kalau suplai energi akan stabil ia berkuasa. Jangan cuma sekali demi kantung pernyataan yang tersebut yang disebut dia targetkan, satu pilar lebih besar banyak penting dari dua pilar lainnya. Semua harus dikonsepkan secara matang juga berimbang.

Karena layaknya tiang yang digunakan dimaksud bersama menopang suatu bangunan agar tetap kokoh, tiga pilar trilema energi juga harus terus dirawat dan juga juga diperkuat secara paralel agar negara bukan pincang.

Keluar dari Zona Nyaman
Apabila sudah sadar akan pentingnya memperkuat tiga pilar trilema energi secara bersamaan, selanjutnya para bacapres harus siap menjadi pembuat kebijakan yang dimaksud tidaklah dapat menyenangkan semua pihak.

Sebagai contoh, revisi Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2021 mengenai Pembangkit Tenaga Listrik Surya (PLTS) Atap saat ini sedang ditunggu berbagai pihak untuk dikaji ulang. Penghapusan sistem ekspor listrik ke dalam jaringan PLN, adanya kuota pembatasan serta permohonan instalasi yang mana digunakan hanya saja sekali dibuka dua kali dalam setahun dinilai akan membunuh minat rakyat untuk memasang PLTS pada area rumah serta bangunan-bangunan mereka.

Keinginan mengejar bauran energi terbarukan tidaklah tercermin dalam revisi peraturan ini kemudian juga masyarakat mempertanyakan sikap defensif PLN dalam menerima bauran energi. Keekonomian serta juga kestabilan permintaan listrik memang penting, tapi sangat disayangkan apabila nyatanya kita malah gagal memanfaatkan kemungkinan besar yang dimaksud ada untuk menuju masa depan energi yang dimaksud tambahan baik.

Keluar dari zona nyaman adalah keniscayaan. Membuat kebijakan untuk menyeimbangkan trilema energi mungkin akan membutuhkan keberanian untuk mendobrak sistem energi yang digunakan mana ada.

Para bacapres harus siap bukan disukai oleh segelintir pengusaha yang tersebut digunakan bidang bisnis energi fosilnya terganggu lantaran subsidinya dialihkan kepada pengembangan masif pabrik panel surya juga insentif menarik bagi yang mana dimaksud mau memasang di dalam dalam rumah. Atau dia juga harus pasang badan untuk mengedukasi rakyat kalau pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sanggup menjadi alternatif apabila memang diperlukan.

Apapun yang itu merek gagaskan, sebaiknya harus tetap didasari dengan objektifitas kepada kebijakan yang dimaksud memberi manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat, keterbukaan kepada inovasi kemudian eksekusi yang dimaksud didasarkan oleh konteks lokal maupun kondisi yang digunakan terus berkembang.

Tanpa mengkerdilkan pentingnya isu-isu lain, keseriusan para bacapres mengatasi isu trilema energi tak boleh ditawar. Jangan sampai, sikap dia yang digunakan sebelah mata terhadap isu ini memunculkan quadrilemma, pada mana menjadi apatis lalu tidaklah memilih siapapun adalah opsi keempat yang digunakan digunakan populer.

Untuk saat ini, tak ada yang dimaksud dimaksud tambahan penting bagi para bacapres untuk menanggapi secara penting permasalahan yang tersebut itu ada. Ini saatnya kepentingan masa depan bangsa diutamakan.