Opini  

Riang Prasetya kemudian Jengahnya Warganet

Riang Prasetya kemudian Jengahnya Warganet

republicberita.com –

Mohammad Akbar

Mohammad Akbar

Mohammad Akbar merupakan Crisis and Conflict Strategist Nexus RMSC. Ia juga merupakan salah satu penulis buku “Public Relations Crisis” yang dimaksud menjadi rujukan berbagai pihak di area area bidang komunikasi. Sebelumnya, lulusan Institut Pertanian Bogor juga juga Universitas Budi Luhur, bekerja sebagai jurnalis dalam PT Republika Media Mandiri selama 21 tahun. Setiap opini yang tersebut mana ditulis tak mewakili institusi tempat penulis bekerja.

Profil Selengkapnya

Nama Riang Prasetya, salah orang kepala RT dalam area kawasan Pluit, Jakarta Utara, dalam beberapa hari terakhir telah terjadi terjadi menarik perhatian banyak pihak. Ia sedang tak bersensasi. Ia juga tak sedang terjerat skandal praktik korupsi layaknya seseorang pejabat kementerian belum lama ini.

Nama Riang jadi perhatian warganet oleh sebab itu sikapnya yang mana digunakan mencoba menegakkan aturan. Tanpa rasa cemas, video Riang yang digunakan dimaksud menyoroti tentang ‘bangunan liar’ yang berdiri di dalam area atas bahu jalan serta saluran air di tempat area wilayah RT 011, RW 03, Jalan Niaga, Blok Z4 Utara, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, mendapat atensi besar. Videonya viral. Sikapnya yang mana berani menentang para pemilik ruko itu dipadankan layaknya sosok Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta.

Video ramai dari Riang itu selanjutnya menyokong Pemerintah Kota Jakarta Utara mengambil tindakan. Penertiban pun dilakukan. Padahal, bangunan-bangunan milik pengusaha itu sudah lama berdiri tanpa sanggup jadi disentuh oleh pejabat dalam tingkat kelurahan maupun kecamatan.

Penerbitan yang mana dimaksud dikerjakan pemkot Jakut itu justru dilawan oleh para pemilik ruko. Mereka berdemo. Bahkan pekan lalu, dua anggota parlemen dari DPRD DKI lalu DPR RI menemui para pemilik ruko. Perang kata-kata melalui media antara Riang lalu anggota parlemen terjadi. Ada kesan, Riang ditekan. Tapi Riang tak gentar. Dukungan warganet justru menjadi modal besar.

Apa yang mana mana terjadi dengan Riang itu sesungguhnya sedang mempertontonkan bagaimana hukum berlaku dalam dalam negeri ini. Sudah jadi rahasia umum bahwa kebenaran pada area atas kertas itu seringkali dapat dinegosiasikan ketika sudah berhadapan dengan segepok rupiah.

Tentunya, tulisan ini bukan untuk mencari benar atau salah atas apa yang dimaksud itu dikerjakan oleh Riang. Tapi apa yang tersebut itu dialami oleh Riang sudah sepantasnya menjadi perhatian banyak pihak. Utamanya jika ingin menegakkan aturan meskipun melawan para pemilik modal besar.

Penulis percaya bahwa orang-orang yang mana berdiri dalam atas kebenaran itu masih cukup banyak pada negeri ini. Kadang untuk menguji kebenaran itu harus membutuhkan waktu serta juga bernyali besar.

Riang pun mafhum bahwa apa yang tersebut mana sudah dilakukannya tentu mengandung konsekuensi. Jika ia berdiri lalu berpijak pada kebenaran maka tak ada alasan untuk mundur barang sejengkal.

Percayalah, modal besar kemudian dukungan kebijakan pemerintah belaka tak akan cukup. Sejumlah fakta sudah terbukti. Mulai dari kasus Ferdy Sambo yang tersebut memanipulasi narasi warga sampai aksi pemukulan anak perwira polisi dalam Sumatra Utara yang dimaksud mana semuanya mendapat backing-an para pemilik modal, pada akhirnya bisa jadi jadi tumbang oleh kekuatan warganet.

Bagi para politisi, menggalang pemilik modal yang mana melanggar aturan, tentunya bukan pilihan yang mana digunakan bijak. Terutama menjauhi kontestasi pilkada. Jangan sampai slogan “membela yang mana dimaksud membayar” akan menjadi buah simalakama bagi dia yang yang berhasrat untuk menjadi perwakilan rakyat — baik itu di tempat area tingkat DPRD maupun DPR.

Rasanya, menyikapi kasus perseteruan Riang  versus pemilik ruko Pluit memang harus bijaksana. Kadang, informasi yang mana mana ter-framming di area dalam media itu tidaklah selamanya merepresentasikan fakta yang tersebut digunakan sesungguhnya. Kita harus tetap cross check informasi.

Namun satu hal yang tersebut perlu diingat bahwa kebenaran itu harus ditegakkan. Kebenaran tak boleh menyerah oleh tumpukan rupiah. Semoga Riang dapat berdiri di area dalam atas kaki kebenaran, bukan sekadar mencari sensasi untuk menaikkan posisi tawarnya saja.

Begitu juga kepada para pemilik ruko Pluit. Jika memang kalian merasa benar, maka tempuhlah jalur hukum. Jangan merasa arogan cuma belaka sebab bermodal tumpukan rupiah lalu dapat belaka melakukan apa saja.

Kemudian bagi anggota DPR juga DPRD, berhati-hatilah menghadapi jejak digital. Apa yang digunakan digunakan dijalani hari ini akan sanggup menimbulkan konsekuensi ketika para warganet mulai bergerak kemudian juga bersuara. Ingatlah, ketika hukum sudah tumpul bagi yang kaya kemudian berkuasa maka kekuatan warganetlah yang mana hal tersebut kelak menumbangkannya.

Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, kekuatan warganet adalah the real power yang nyata dalam dalam negeri ini. Warganet bukanlah kumpulan orang yang tersebut hal tersebut sanggup dengan mudah dibeli. Suara dia adalah cerminan pendapat rakyat, meskipun sebagian besar merekan adalah orang orang yang dimaksud mana tinggal diperkotaan.

Jadi siapa yang mana mana berani melawan ketidakbenaran warganet maka bersiaplah untuk ditelan gelombang suara-suara sumbang tak berfilter dari netizen +62.

Jadi siapkah kalian?