Perkara oknum Paspampres dilimpahkan ke Pengadilan Militer pada Senin

Perkara oknum Paspampres dilimpahkan ke Pengadilan Militer pada Senin
berkas perkara tiga oknum TNI yang mana mana sudah pernah diimplementasikan dilimpahkan dari Polisi Militer Kodam (Pomdam) Jaya sudah lengkap juga siap dilimpahkan ke Pengadilan Militer

republicberita.com – Jakarta –

Oditurat Militer II-07 Jakarta melakukan konfirmasi berkas perkara kasus pembunuhan Imam Masykur melibatkan oknum anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Praka RM akan dilimpahkan ke Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada Senin (23/10).

 

"Rencananya, Senin (23/10) pukul 10.00 WIB berkasnya kami limpahkan ke Pengadilan Militer II-08 Jakarta," Kepala Oditurat Militer II-07 Jakarta Kolonel Kum Riswandono Haryadi ketika dikonfirmasi di dalam area Jakarta, Sabtu.

 

Selain Praka RM, dua tersangka lain yang mana dimaksud diduga melakukan pembunuhan berencana terhadap Imam Masykur, yakni Praka HS dari satuan Direktorat Topografi TNI Angkatan Darat serta Praka J dari Kodam Iskandar Muda.

 

Dia mengatakan, berkas perkara tiga oknum TNI yang dimaksud dimaksud telah terjadi dijalani dilimpahkan dari Polisi Militer Kodam (Pomdam) Jaya sudah lengkap lalu siap dilimpahkan ke Pengadilan Militer.

 

"Berkas sudah lengkap, syarat formil kemudian juga materiel," kata dia.

 

Oditurat Militer II-07 Jakarta pun sudah mengirimkan surat pendapat hukum (SPH) kepada perwira penyerah perkara (Papera) untuk dimintakan keputusan penyerahan perkara (Keppera).

 

Bila Papera satuan tersangka bertugas telah dilakukan terjadi mengeluarkan Keppera, maka Oditur Militer selaku penuntut umum dalam peradilan militer akan melimpahkan berkas ke Pengadilan Militer II-08 Jakarta.

"Saat ini kita masih menunggu satu Keppera," kata Riswandono.

 

Ketiga tersangka disangkakan pasal kombinasi yakni primer 340 KUHP juncto 55 KUHP ayat 1 ke 1 tentang pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal hukuman mati.

 

Kemudian subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP tentang pembunuhan, lebih lanjut lanjut subsider Pasal 351 ayat KUHP tentang penganiayaan, Pasal 328 tentang penculikan.

 

Praka RM, Praka HS, serta Praka J merupakan tersangka kasus penculikan, pemerasan, juga penganiayaan terhadap H lalu Imam Masykur.

 

Masykur adalah pribadi perantau selama Aceh yang dimaksud digunakan bekerja sebagai penjaga toko kosmetik di tempat dalam daerah Rempoa, Tangerang Selatan, Banten, yang dimaksud hal tersebut diyakini mengirimkan obat-obatan golongan G (obat keras) secara ilegal.

 

Para pelaku menculik Imam Masykur dari sebuah toko kosmetik yang mana hal tersebut dijaga pada area sekitaran Rempoa, Tangerang Selatan, Banten, pada 12 Agustus 2023.

 

Dalam aksinya itu, para pelaku sempat memancing perhatian warga sekitar toko, terutama saat merekan memaksa Imam Masykur masuk ke dalam mobil. Tiga prajurit itu juga mengaku sebagai polisi kepada warga.

 

Di dalam kendaraan, para pelaku menganiaya Imam Masykur sembari memeras korban. Para pelaku sempat menghubungi keluarga korban juga mengancam dia kemudian jika tidak ada ada segera diberi uang Rp50 jt maka Imam Masykur akan dibunuh lalu jasadnya dibuang ke sungai.

 

Keluarga korban sempat meminta-minta waktu kepada para pelaku, tetapi nyawa Imam Masykur tidaklah tertolong. Hasil autopsi di tempat dalam RSPAD menunjukkan Imam Masykur meninggal akibat benturan keras pada area area leher hingga mengakibatkan pendarahan otak.

 

Di sepanjang aksinya, pelaku menganiaya Imam Masykur dalam area dalam mobil. Tiga prajurit itu sempat berhenti ke toko kedua kemudian menculik penjaga toko kosmetik lainnya, berinisial H. Korban kedua itu, yang dimaksud dimaksud selamat, dijemput dari tokonya dalam area Condet, Jakarta.

 

Para pelaku memutuskan melepas H setelah panik mengetahui Imam Masykur meninggal dunia. Korban H dilepaskan oleh para pelaku di tempat dalam sekitar Tol Cikeas setelah dianiaya juga oleh Praka RM, Praka HS, juga Praka J.

 

Dari hasil rekonstruksi, penyidik mengetahui Imam Masykur meninggal saat mobil melintas pada Tol Cimanggis. Para pelaku kemudian membuang jasad korban dalam area Waduk Jatiluhur di dalam area Purwakarta hingga akhirnya mayatnya ditemukan oleh warga pada dalam sekitar Karawang

 

Toko-toko kosmetik yang dijaga oleh H kemudian Imam Masykur diketahui merupakan kedok untuk memasarkan obat-obatan golongan G (obat keras yang mana yang membutuhkan resep dokter) secara ilegal. Tiga prajurit itu diyakini oleh penyidik kerap mengincar toko-toko obat ilegal berkedok toko kosmetik untuk memeras para penjual atau penjaga toko.