Pakar Prediksi Semua Gerhana Matahari Akan Jadi ‘Cincin Api’

Pakar Prediksi Semua Gerhana Matahari Akan Jadi ‘Cincin Api’

republicberita.com – Pakar astronomi dari Hayden Planetarium, New York, Joe Rao memprediksi  di masa depan akan seluruhnya berbentuk lingkaran ‘cincin api’, alias bukan ada lagi gerhana Matahari total. Hal ini disebabkan oleh jarak rata-rata  ke Bumi meningkat dengan kecepatan sekitar 3,8 cm setiap tahunnya.

Gerhana yang dimaksud yang berbentuk lingkaran ‘cincin api’ itu disebut juga gerhana Matahari annular atau gerhana Matahari Cincin. Gerhana ini merupakan gerhana melingkar, dalam mana cincin cahaya Matahari terlihat mengelilingi bayangan Bulan pada titik tengah dalam pengamatan.

Menurut Joe, gerhana annular tidaklah seperti gerhana total akibat langit tiada menjadi lebih besar banyak gelap, korona matahari kemudian kromosfer, serta “efek tepi” seperti pita bayangan tak dapat muncul.

“Namun, akan tiba saatnya ketika fenomena Gerhana Matahari Total akan menjadi hal yang tersebut digunakan mustahil, akibat Bulan, seperti yang mana yang disebut terlihat dari Bumi, akan terlalu kecil dalam ukuran sudut yang tampak untuk menutupi seluruh piringan Matahari,” kata Joe dalam sebuah kolom yang mana ditulis pada Space, Minggu (8/10).

Ia menjelaskan Bulan bergerak mengelilingi Bumi dalam orbit elips. Pada titik terdekatnya dengan Bumi (perigee), Bulan dapat mendekati Bumi dalam jarak 356.371 km, sedangkan titik terjauh dari Bumi (apogee) adalah 406.720 km. Jarak rata-rata Bumi ke bulan adalah 384.748 km.

Agar gerhana total dapat terjadi, kerucut bayangan umbra gelap bulan harus bersentuhan dengan permukaan Bumi. Ketika umbra mendarat dalam dalam Bumi, pada dasarnya, itu adalah ujung kerucut bayangan juga dalam kebanyakan kasus, bayangan gelap hal hal itu cenderung miliki lebar rata-rata sekitar 130 km. Di mana pun dalam area bayangan tersebut, akan mengalami Gerhana Matahari Total, dengan bayangan gelap bulan sepenuhnya menutupi Matahari.

Namun, kerucut bayangan bulan – secara umum – panjangnya hanya sekali sekali sekitar 378.000 km, lebih lanjut lanjut kecil dari jarak rata-rata Bulan dari Bumi.

“Itulah sebabnya, ketika Bulan baru melintas langsung di tempat area antara Bumi serta Matahari, jika – secara umum – jaraknya lebih lanjut banyak dari 378.000 km, ujung bayangan umbra yang dimaksud itu gelap akan gagal untuk melakukan kontak dengan Bumi,” ujar Joe.

“Sebagai gantinya, ‘bayangan negatif’ yang mana digunakan dikenal sebagai antumbra tercipta juga dari bayangan itulah – seperti yang dimaksud mana akan terjadi pada tanggal 14 Oktober – pemandangan Gerhana Matahari Total atau Gerhana Cincin akan terlihat,” lanjutnya.

Kepunahan Gerhana Matahari Total

Sejak Juli 1969 sampai Desember 1972, 12 astronot Apollo meninggalkan serangkaian pemantul laser di area dalam permukaan Bulan. Sejak saat itu, para astronom dalam Bumi secara rutin memantulkan laser dari reflektor tersebut. Dengan mengukur waktu perjalanan pulang-pergi pulsa laser tersebut, jarak Bulan dapat diukur dengan sangat akurat.

Analisis dari pengukuran ini menunjukkan bahwa jarak rata-rata bulan ke Bumi meningkat dengan laju sekitar 3,8 cm setiap tahunnya. Mengapa hal ini terjadi?

Gerak bulan sangat dipengaruhi oleh daya tarik Matahari, juga dengan cara yang dimaksud dimaksud tambahan rendah oleh planet-planet lalu juga Bumi. Karena pengaruh pasang surut, Bulan perlahan-lahan bergerak menjauh dari Bumi, berputar ke arah luar serta naik ke orbit yang mana mana lebih besar tinggi jauh.

Faktor Pergeseran Bulan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA


HALAMAN:
1 2

Tinggalkan Balasan