Opini  

Mengukur Untung kemudian Rugi Dedolarisasi

Mengukur Untung kemudian Rugi Dedolarisasi

republicberita.com –

Kurniawan Budi Irianto

Kurniawan Budi Irianto

Kurniawan Budi Irianto, Pejabat pengawas pada Kementerian Keuangan. Menulis untuk mengisi waktu luang. Opini yang digunakan disampaikan merupakan pendapat pribadi penulis, bukan merupakan pendapat resmi dari tempat penulis bekerja.

Profil Selengkapnya

Fluktuatifnya kurs mata uang dolar Amerika Serikat beberapa waktu terakhir ini menjadi salah satu topik menguatnya keinginan dari sebagian negara untuk menciptakan alat tukar sendiri. Beberapa negara kemudian menjadikan isu hal itu untuk tambahan mengoptimalkan pengaplikasian mata uangnya dalam transaksi perdagangan internasional.

Berbagai negara pun mulai membuka ruang dialog dengan mitra dagang yang tersebut digunakan dimiliki untuk memfokuskan pengaplikasian mata uang domestik dalam transaksi antar negara.

Perdagangan antar negara telah terjadi dilaksanakan berevolusi sejak pertama kali dilakukan. Pada awalnya, barter digunakan sebagai cara bertransaksi. Baik lingkup individu maupun antar negara, barter menjadi pilihan yang dimaksud digunakan sesuai saat itu.

Namun seiring berjalannya waktu, barter miliki berbagai kelemahan. Keunggulan suatu negara atau keragaman sumber daya yang dimaksud dimiliki memungkinkan sebuah negara mendapatkan surplus dalam perdagangan. Sebaliknya negara yang digunakan tak miliki keunggulan berpotensi untuk mengalami defisit dalam perdagangan.

Adanya surplus juga defisit yang tersebut disebut yang tersebut yang disebut menjadikan mekanisme barter memerlukan instrumen tambahan agar menjadi seimbang. Emas juga perak menjadi pilihan yang dimaksud dimaksud digunakan sebagai penyeimbang pada dalam perdagangan antar negara. Bagi yang mengalami surplus maka akan mendapatkan tambahan emas/perak sebagai keuntungan dari perdagangan yang tersebut dimaksud terjadi.

Perkembangan perdagangan yang tersebut pesat menjadikan instrumen emas dan juga juga perak menjadi kurang adaptif dalam penggunaannya. Cadangan yang mana digunakan terbatas serta mekanisme pertukarannya yang dimaksud kurang fleksibel mengalihkan perhatian semua pihak untuk mencari pengganti emas serta perak pada dalam transaksi perdagangan. Instrumen pengganti itu yang digunakan mana kemudian disebut dengan uang.

Pada awalnya dolar AS digunakan sebagai katalis mengingat pasca perang dunia kedua perekonomian Amerika Serikat merupakan satu-satunya yang tersebut digunakan selamat dari kehancuran perang. Sekarang setelah sekian puluh tahun Dolar berkuasa, pertanyaan muncul dari berbagai negara terkait urgensi pemanfaatan Dolar dalam perdagangan internasional.

Apakah masih diperlukan ataukah dapat digantikan dengan mata uang lain. Relevansi dolar AS kembali dipertanyakan tatkala kenaikan suku bunga yang mana diimplementasikan oleh Bank Sentral AS (The Fed) ternyata berdampak pada perekonomian negara lain khususnya yang dimaksud dimaksud menggunakan dolar AS sebagai standar nilai.

Dedolarisasi dalam perdagangan sebenarnya bukan menjadi sebuah isu ketika neraca perdagangan antar negara mengalami keseimbangan. Tanpa ada kesepakatan bersama antar negara pun, seandainya tren perdagangan antara negara berimbang maka pemanfaatan mata uang jelas tak dibutuhkan sebanding sekali. Hal itu disebabkan oleh sebab itu pola perdagangan kembali ke era masa awal dahulu yaitu barter.

Namun apabila terdapat surplus lalu defisit antar negara maka suka atau tiada ada suka keterlibatan mata uang sebagai penengah menjadi sebuah kebutuhan. Yang jadi pertanyaan kemudian, mata uang mana yang dimaksud digunakan digunakan? Bagaimana mekanisme penentuan nilai mata uang tersebut, kemudian negara mana cuma yang dimaksud mau menerima mata uang tersebut?

Beberapa pertanyaan mendasar hal hal itu perlu dipikirkan dengan matang oleh sebab itu berdampak pada cadangan devisa yang mana dimiliki oleh sebuah negara. Apabila mata uang yang dimaksud digunakan merupakan mata uang yang digunakan digunakan diminati banyak negara dengan kurs yang tersebut mana stabil, tentu semata bukan menjadi sebuah hambatan apabila ada negara yang dimaksud menjadikannya sebagai cadangan devisa. Namun menjadi sebuah keanehan apabila mata uang yang mana digunakan tidak ada ada memenuhi kriteria tersebut.

Tanpa ada mekanisme transparan serta akuntabel dalam pengelolaan mata uang non-dolar, maka sangat dimungkinkan sebuah negara akan mencetak uang baru untuk membayar tagihan dari negara lain. Dan dalam total keseluruhan tertentu, surplus dalam bentuk mata uang lokal ini menjadi tiada ada likuid akibat minimnya negara yang dimaksud mana mau menerima mata uang tersebut.

Perdagangan antara India juga juga Rusia bisa saja semata menjadi contoh sisi negatif pengaplikasian mata uang lokal dalam transaksi kedua negara. Dalam interaksi keduanya, Rusia mencatatkan surplus sebesar lebih lanjut tinggi dari $40 miliar yang sebagian besar disumbang oleh perdagangan minyak Rusia ke India pada tahun 2022.

Apabila sebelumnya transaksi keduanya menggunakan mata uang dolar sebagai “penengah”, pengenaan sanksi yang dimaksud dikenakan kepada Rusia menciptakan kedua negara harus menciptakan alat tukar baru.

Kedua negara “terpaksa” menggunakan mata uang masing-masing sebagai alat pembayaran transaksi perdagangannya. Sayangnya, surplus luar biasa yang tersebut itu dinikmati oleh Rusia harus ditebus sangat mahal. Rusia belaka belaka bisa saja cuma menerima pembayaran menggunakan mata uang Rupee.

Dan akumulasi Rupee yang mana dimaksud membengkak menjadikannya sebagai sebuah aset non likuid bagi Rusia. Tidak banyak negara yang mana hal tersebut membutuhkan Rupee untuk bertransaksi, sedangkan opsi menyeimbangkan neraca dagang dalam antara keduanya bukan menjadi pilihan yang mana mana mudah saat ini. Alternatif bagi Rusia untuk menggunakan Rupee dalam bertransaksi dengan negara selain India juga bukan merupakan ide yang dimaksud tepat.

Contoh kedua berkaitan dengan hubungan perdagangan antara Arab Saudi dengan China. Hubungan Arab Saudi serta China jarak sangat lebih lanjut lanjut mudah lalu menguntungkan apabila dibandingkan dengan hubungan India juga Rusia. Arab Saudi mencatatkan surplus dalam perdagangan dengan China setiap tahunnya dari ekspor minyak. Pada tahun 2021, Arab Saudi mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$19,7 miliar dari China.

Keberuntungan dinikmati oleh Arab Saudi meskipun mengalami surplus serta bertambahnya Renminbi sebagai cadangan devisanya. Berbeda dengan nasib Rusia terhadap Rupee, Renminbi jarak sangat jauh lebih besar lanjut mudah untuk diterima banyak negara dibandingkan Rupee.

Perkembangan kegiatan kegiatan ekonomi China yang dimaksud dimaksud begitu pesat serta meluasnya pasar produk-produk China menciptakan banyak negara memburu Renminbi untuk bertransaksi dengan China. Namun alih-alih “menjual” Renminbi ke negara lain, Arab Saudi malahan menggunakan surplus hal itu untuk memborong berbagai hasil berteknologi tinggi termasuk persenjataan dari China.

Dari kedua contoh di dalam dalam atas, dedolarisasi merupakan kesempatan namun terselip juga ancaman pada dalamnya. Potensi bisa saja jadi terdiri dari meningkatnya transaksi perdagangan antar negara untuk mengejar keseimbangan ekspor lalu impor.

Kasus Arab Saudi serta China membuktikan bahwa ketika Arab Saudi mengalami surplus maka solusi penambahan impor dari China merupakan salah satu cara menyeimbangkan perdagangan. Bertambahnya impor oleh Arab Saudi bermakna adanya peningkatan produksi lalu pembukaan lapangan pekerjaan pada China untuk memenuhi kebutuhan dari Arab Saudi.

Sedangkan pada kasus India juga Rusia, penambahan aset finansial non likuid justru memusingkan otoritas moneter dalam mengelola devisa. Secara statistik, cadangan devisa akan meningkat disertai variasi mata uang yang tersebut digunakan beragam.

Namun apabila dihadapkan pada transaksi pembayaran impor, aset non likuid yang dimaksud disebut susah untuk dijadikan alat pembayaran. Satu-satunya cara adalah mengembalikan ke negara penerbit melalui peningkatan impor dari negara penerbit mata uang tersebut.

Dedolarisasi memang akan merumitkan dalam transaksi perdagangan antar negara, masing-masing negara akan mengelola beraneka mata uang dari negara lain sebagai imbas transaksi perdagangan antar negara. Apabila kebijakan yang dimaksud disebut akan diimplementasikan sepenuhnya maka kalkulasi untung merugi khususnya kemungkinan bertambahnya aset-aset non likuid harus mendapatkan perhatian secara khusus.