Opini  

Industri Pertahanan Pada Perencanaan Strategis Pasca 2024

Industri Pertahanan Pada Perencanaan Strategis Pasca 2024

republicberita.com –

Alman Helvas Ali

Alman Helvas Ali

Alman Helvas Ali adalah konsultan defense industry and market pada PT Semar Sentinel, Jakarta sejak 2019 – sekarang dengan tanggungjawab memberikan market insight kepada Original Equipment Manufacturer asing yang digunakan dimaksud ingin berbisnis dalam dalam Indonesia. Sebelumnya pernah menjadi Jane’s Aerospace, Defense & Security, Country Representative – Indonesia pada tahun 2012-2017 yang digunakan bertanggungjawab terhadap pengembangan pasar Jane’s dalam tempat Indonesia. Memegang ijazah sarjana aeronautika dari Universitas Suryadarma Jakarta, Alman miliki spesialisasi dalam bidang industri pertahanan, pasar pertahanan serta kebijakan pertahanan. Sebelum bergabung dengan Jane’s, Alman pernah bekerja pada lembaga think-tank pada Jakarta yang mana digunakan berfokus pada isu pertahanan kemudian maritim. Dapat dihubungi melalui [email protected] serta atau [email protected]

Profil Selengkapnya

Dari alokasi Pinjaman Luar Negeri (PLN) sebesar US$34,4 miliar untuk Kementerian Pertahanan, hingga paruh pertama 2023 Menteri Keuangan sudah menyetujui sekitar US$25 miliar untuk dibelanjakan dalam bentuk kontrak akuisisi. Dalam setiap kontrak pembelian sistem senjata, Indonesia mewajibkan Original Equipment Manufacturer (OEM) untuk melakukan transfer teknologi kepada firma pertahanan Indonesia.

Namun apakah suatu program transfer teknologi berhasil atau bukan ada baru dapat dilihat dalam beberapa tahun lagi ketika industri pertahanan Indonesia mengembangkan hasil sendiri. Sorotan lain terhadap program transfer teknologi adalah bukan jelasnya data berapa banyak pasar tenaga kerja domestik yang mana hal itu diciptakan dari hasil belanja sistem senjata melalui skema PLN.

Belanja pertahanan yang digunakan mana dibiayai oleh PLN pada Minimum Essential Force (MEF) tahap ketiga memang fantastik. Selain dibelanjakan untuk membeli sistem senjata maju seperti Rafale, A400M juga radar pertahanan udara GM400 Alpha, utang luar negeri dipakai pula guna mengimpor pesawat tempur bekas Mirage 2000-5.

Walaupun Menteri Keuangan sudah pernah lama menerbitkan persetujuan anggaran sekitar US$25 miliar, akan tetapi masih terdapat beberapa kontrak yang digunakan belum ditandatangani, seperti rencana akuisisi kapal selam senilai US$2,1 miliar yang dimaksud menghadapkan Naval Group versus TKMS. Begitu pula dengan rencana pengadaan pesawat Airborne Early Warning (AEW) yang mana mana bernilai US$800 juta.

Mengingat besarnya alokasi PLN yang yang disediakan juga juga besarnya nilai persetujuan utang yang digunakan digunakan sudah disetujui oleh Menteri Keuangan, merupakan tantangan bagi Kementerian Pertahanan untuk mampu menyerap utang tersebut. Nilai penyerapan utang selalu menjadi tantangan bagi Kementerian Pertahanan, dalam dalam mana utang yang tersebut telah dilakukan dikerjakan disetujui harus mampu diwujudkan dalam bentuk kontrak pengadaan.

Selain kontrak pengadaan, Kementerian Pertahanan juga harus menjamin ketersediaan dana Rupiah Murni Pendamping dalam APBN agar kontrak dapat memasuki status efektif. Pada sisi lain, suatu kontrak dapat memasuki status efektif apabila Kementerian Keuangan dapat menjamin ketersediaan lender yang mana digunakan akan memberikan utang melalui penandatanganan loan agreement.

Di samping itu, Kementerian Pertahanan juga mempunyai jadwal untuk menyusun perencanaan strategis pertahanan pasca MEF, termasuk postur pertahanan. Dalam jangka pendek, pada tingkat minimal kementerian hal itu sudah harus menyusun postur pertahanan periode 2025-2029.

Menyangkut nama program perkembangan kekuatan pasca 2024 akan ditentukan oleh pemerintahan baru hasil pilpres 2024, namun setidaknya rancangan postur pertahanan yang disusun oleh Kementerian Pertahanan saat ini dapat menjadi acuan awal bagi pemerintahan baru. Pemerintahan baru dapat melakukan revisi terhadap rancangan postur yang tersebut disiapkan, sebab rencana itu harus selaras dengan kebijakan pertahanan yang tersebut dimaksud dianut oleh pemerintahan baru.

Terkait dengan perencanaan strategis pertahanan pasca 2024, hendaknya terdapat change and continuity dalam aspek postur pertahanan sebab postur pertahanan pasca 2024 harus berangkat dari postur yang tersebut dimaksud tersedia saat ini. Salah satu komponen postur adalah struktur kekuatan yang dimaksud digunakan mengulas tentang order of battle, seperti jumlah keseluruhan keseluruhan pesawat tempur, pesawat angkut, kapal kombatan permukaan serta model dari tiap jenis sistem senjata tersebut.

Struktur kekuatan yang tersebut yang disebut dihasilkan oleh MEF perlu ditinjau ulang, seperti penggantian sistem senjata yang tersebut dimaksud sudah pernah berumur, akan tetapi dalam area sisi lain pemerintahan baru wajib mempertahankan kesiapan operasional sistem senjata yang digunakan diakuisisi dalam era MEF. Penting untuk dicatat selama pelaksanaan MEF di area dalam era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lalu juga Presiden Joko Widodo, secara total pemerintah mengalokasikan Pinjaman Luar Negeri (PLN) sekitar US$50 miliar untuk pengadaan beragam sistem senjata.

Guna mencapai struktur kekuatan yang digunakan akan ditetapkan oleh pemerintahan baru, kegiatan pengadaan sistem senjata adalah sebuah keniscayaan. Dapat dipastikan bahwa PLN tetap menjadi andalan utama untuk akuisisi sistem senjata yang tersebut mana digolongkan sebagai major weapon systems seperti kapal kombatan, pesawat tempur lalu juga lain sebagainya.

Untuk pengadaan baru tersebut, hendaknya terdapat continuity bagi program tertentu seperti kapal kombatan permukaan. Kebijakan pemerintah saat ini yang dimaksud hal itu sudah dijalankan serta akan membeli kapal fregat berkemampuan ocean going seperti Arrowhead 140 lalu juga FREMM hendaknya dilanjutkan oleh pemerintahan baru agar kekuatan TNI Angkatan Laut pada dekade 2030 ke atas mempunyai kemampuan proyeksi kekuatan.

Begitu pula dengan pengadaan kapal selam dalam masa depan dalam area mana Indonesia tetap membutuhkan kapal selam dengan kemampuan ocean going. Rencana pembelian kapal selam dengan kemampuan ocean going saat ini di dalam area mana Naval Group kemudian TKMS berkompetisi perlu dilanjutkan dalam postur pertahanan ke depan.

Perkembangan teknologi kapal selam di tempat dalam masa depan pun perlu dipertimbangkan, seperti apakah teknologi akumulator lithium-ion atau kombinasi AIP lalu elemen penyimpan daya lithium-ion yang mana akan menjadi acuan Indonesia. Program pengadaan kapal selam saat ini menghadapkan teknologi akumulator lithium-ion yang dimaksud ditawarkan oleh Naval Group versus AIP yang dimaksud disodorkan oleh TKMS.

Perencanaan strategis pasca 2024 sebaiknya tiada melupakan pula peran industri pertahanan domestik. Terdapat harapan agar industri pertahanan lokal dapat berkontribusi tambahan lanjut besar pasca 2024, khususnya pada penyelenggaraan kapal kombatan permukaan kemudian kapal selam yang dimaksud mana tergolong complex naval vessel berdasarkan pengalaman pada MEF tahap kedua kemudian ketiga.

Harapan demikian dapat terwujud apabila beberapa faktor terpenuhi oleh industri perkapalan dalam negeri, seperti memperbaiki kondisi internal merek pada bidang rekayasa, sumberdaya manusia, kapasitas produksi serta keuangan. Begitu pula tentang alih teknologi perkembangan kapal fregat kemudian kapal selam pada area dalam negeri yang tersebut dijanjikan oleh Original Equipment Manufacturer asing.

Karena karakteristik kapal perang seperti fregat juga juga kapal selam berbeda dengan pesawat tempur, permintaan Indonesia kepada OEM agar kapal perang merek diproduksi dalam Indonesia akan lebih lanjut lanjut mudah disetujui oleh pabrikan. Pertanyaannya adalah apakah galangan domestik siap menangkap peluang perusahaan pada program pengadaan pasca 2024 dengan memanfaatkan pengalaman yang didapat dari MEF 2010-2024?

Terdapat benang merah yang digunakan dimaksud jelas antara perencanaan strategis pertahanan dengan peran industri pertahanan nasional, dalam mana benang merah hal itu harus dipandang sebagai prospek oleh industri pertahanan dalam negeri.