Hamas-Israel Panas, Bos TikTok-Facebook-Twitter Kena Getahnya

Hamas-Israel Panas, Bos TikTok-Facebook-Twitter Kena Getahnya

republicberita.com –

Jakarta – Konflik Hamas dengan Israel yang dimaksud dimaksud pecah pada pekan lalu masih terus berlangsung. Insiden berdarah ini sudah merenggut lebih tinggi lanjut dari 2.800 nyawa.

Perpecahan dalam Timur Tengah itu menjadi perhatian pada seluruh dunia. Sayangnya, informasi yang beredar pada dalam internet melalui media sosial banyak yang dimaksud digunakan dinilai menyesatkan serta tak akurat.

Untuk itu, Komisioner Eropa untuk pasar internal, Thierry Breton, mengirim peringatan ke bos-bos raksasa media sosial. Antara lain Elon Musk (Twitter/X), Mark Zuckerberg (Meta), juga Shou Zi Chew (TikTok).

Breton mengajukan permohonan seluruh penyedia media untuk mematuhi aturan Digital Services Act (DSA) yang dimaksud dimaksud berlaku pada area wilayah Eropa. Aturan itu mewajibkan sistem dengan pengguna terlibat bulanan melebihi 45 jt untuk memantau kemudian menghapus konten ilegal.

Para penyedia media diberikan waktu 1×24 jam untuk menghapus konten yang dimaksud dimaksud tak akurat kemudian menambah karut-marut situasi genting antara Hamas juga Israel. Saat ini, baru Facebook yang mana digunakan mengumumkan sudah menyapu bersih disinformasi dalam tempat platformnya.

Dalam suratnya ke Elon Musk, Breton mengingatkan bahwa di area tempat dalam aturan DSA “ada kewajiban yang mana digunakan sangat detail permasalahan moderasi konten” kemudian X harus “sangat transparan lalu jelas tentang konten apa yang digunakan diizinkan serta menegakkan kebijakan yang tersebut secara konsisten lalu teliti.”

“Saya ingatkan, setelah penyelidikan lalu temuan ketidakpatuhan, penalti akan diberikan,” kata Breton, dikutip dari Reuters.

Sementara itu, dalam suratnya ke Shou, Breton menyatakan bahwa pihaknya menemukan indikasi pemanfaatan TikTok untuk membagikan konten ilegal juga disinformasi terkait perang Hamas vs Israel.

TikTok, tegasnya, harus bertindak “cepat, tekun, lalu objektif” dalam menghapus berita bohong di area dalam platformnya, apalagi banyak warga usia muda menggunakan TikTok sebagai sumber berita.

“Pertama, akibat jaringan Anda sangat banyak digunakan oleh anak kemudian remaja, Anda punya kewajiban untuk melindungi merek dari konten kekerasan yang mana menggambarkan penculikan juga video lain yang mana digunakan beredar pada media digital Anda, tanpa sistem pengaman yang digunakan pantas,” kata Bretton dalam suratnya seperti dikutip dari CNBC International.

Terakhir, dalam surat ke Zuckerberg, Breton memberikan ultimatum yang tersebut hal tersebut serupa.

“Saya minta Anda untuk mematuhi aturan Digital Service Act (DSA) dalam waktu yang digunakan mana sudah lama ditetapkan. Tindakan tegas akan kami lakukan jika masih ada konten ilegal yang tersebut dimaksud tersebar di tempat tempat UE,” kata Breton pada Zuckerberg dalam surat resminya, dikutip dari Reuters.

Jika para penyedia sistem digital gagal membersihkan konten sesat dari ruang digitalnya dalam waktu 1 x 24 jam setelah surat dikirim, maka Komisi Eropa tak segan-segan menjatuhkan denda sebesar 6% dari total pendapatan dia pada dalam kawasan Eropa.


Tinggalkan Balasan