Opini  

Gas dan juga Energi Hayati untuk Kehandalan Pasokan Energi RI

republicberita.com –

Hery Haerudin

Hery Haerudin

Hery Haerudin merupakan VP Pertamina Energy Institute (PEI) serta telah terjadi dikerjakan berkarir selama satu dekade. Hery merupakan praktisi di dalam tempat sektor minyak, gas, kemudian energi dengan berbagai pengalaman dalam kegiatan research & development (R&D) dalam Pertamina kemudian LIPI.

Profil Selengkapnya

Sesuai sebutannya yaitu Energy Trilemma, ada tiga hal penting dalam menilai sektor energi suatu negara, yaitu Security, Affordability lalu Sustainability. Sejauh mana kesetimbangan akan tiga hal itu yang digunakan mana seringkali menjadi konflik antara satu lalu lainnya, menjadi ukuran kekuatan sektor energi suatu negara. Dari semula ketetimbangan antara ketiga kriteria, menjadi hirarki, kriteria mana yang tersebut mana lebih tinggi lanjut utama pada saat terjadi krisis seperti sekarang. Indonesia Trilemma Index tahun 2022 adalah 59.7, yang digunakan berjauhan lebih lanjut tinggi rendah dibandingkan 85 pada tahun 2016.

Masalahnya, setiap negara miliki kekayaan sumber daya alam yang mana berbeda. Demikian juga tingkat kemajuan dunia bisnis negara yang tersebut dimaksud satu juga lainnya mempunyai ketergantungan yang dimaksud berbeda pada kekayaan alam. Kondisi sosial kegiatan sektor ekonomi rakyat juga menentukan, sejauh mana kekayaan alam akan diolah serta kebutuhan dasar yang dimaksud terutama harus dipenuhi. Tercatat, Indonesia menduduki peringkat kedua dalam dunia dengan keanekaragaman hayati terbesar pada tahun 2022. Indonesia miliki lebih lanjut tinggi dari 17.000 pulau, serta merupakan rumah bagi berbagai ikan, burung, serta juga tambahan banyak dari 19.000 spesies tanaman.

Baru-baru ini WoodMac mengeluarkan Laporan bahwa Indonesia diperkirakan akan impor LNG di area dalam tahun 2040. Laporan itu dipaparkan dalam IPA 2023 di dalam dalam Serpong. Saat ini Indonesia masih mampu ekspor LNG. Bahkan beberapa periode silam Indonesia pernah menduduki sebagai eksportir terbesar LNG dalam tempat dunia. Kita juga saat ini menjadi eksportir batubara yang digunakan dimaksud besar. Masih terkait energi, nikel bahkan menjadi primadona ekspor akibat dibutuhkan dunia untuk material battery sebagai penyimpan energi.

Kehandalan Pasokan Energi

Kehandalan pasokan energi ini sangat besar dampaknya secara sektor sektor ekonomi bagi suatu negara. Di masa lalu, ketika terjadi konflik maka serta merta biaya energi akan meningkat tajam, yang mana mana diikuti dengan kenaikan nilai tukar komoditas lainnya serta juga biaya logistic lalu transportasi. Setiap kejadian besar mengakibatkan adanya perubahan kebijakan yang dimaksud sangat besar. Pembentukan OPEC tahun 1960 yang dimaksud berakibat pada naiknya biaya migas, menyokong terbentuknya IEA oleh negara-negara maju.

Terakhir, pandemi serta konflik Rusia-Ukraina mengubah banyak kebijakan terkait energi transisi ke energi terbarukan. Bahkan hingga beberapa negara terpaksa menjilat ludah sendiri dengan kembali menyalakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Tenaga nuklir yang digunakan semula hendak ditinggalkan, bahkan kembali diterima sebagai sumber energi pada Jepang juga Prancis. Banyak negara berkembang kembali menghidupkan program nuklir untuk energinya, antara lain Filipina, Vietnam juga Bangladesh.

Indonesia butuh energi yang dimaksud sangat besar untuk mengupayakan kemajuan ekonomi. Pada tahun 2050 energi ekuivalen dibutuhkan 1.000 MTOE vs saat ini sebesar 257 MTOE. Semangat perluasan serta industrialisasi dalam rangka menuju Indonesia Maju terbukti membutuhkan energi yang mana hal tersebut besar. Pembangkit listrik untuk satu kompleks industri pengolahan nikel di dalam tempat Morowali (700 GW), sebesar 30% dari total kapasitas pembangkit listrik pada area Sulawesi Tengah (2.100 GW pada 2021). Artinya, kompleks industri pengolahan nikel berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kebutuhan listrik dalam dalam Sulawesi Tengah.

Kebutuhan energi juga terbukti sangat dipengaruhi oleh kebiasaan baru, terutama yang tersebut hal tersebut terkait teknologi. Saat pandemi, energi untuk transportasi menurunkan tajam menjadi sekitar 12% dibandingkan pra-pandemi. Tetapi akibat kegiatan berpindah ke pemukiman serta tempat tinggal dengan memanfaatkan teknologi komunikasi kemudian internet, maka kebutuhan listrik saat pandemi justru meningkat 8% dibandingkan dengan 6% peningkatan sebelum pandemi.

Gas kemudian Energi Hayati sebagai Pilihan Utama

Gas terbukti menjadi energi yang dimaksud dimaksud menghasilkan emisi lebih tinggi tinggi rendah dibandingkan dengan energi fosil lainnya. Tidak heran mengapa Korea juga Jepang begitu mengandalkan pasokan gas alam sebagai pasokan energi untuk industri lalu masyarakat. China menggunakan gas alam sebagai transisi ke energi terbarukan sekaligus untuk mengurangi dampak polusi udara di dalam tempat HBT (Huabei-Beijing-Tianjin) pada dalam era 2000-an sebelum berkembangnya elektrifikasi dalam area transportasi. Sehingga Olimpiade Beijing tahun 2008 berhasil diselenggarakan dalam udara yang dimaksud yang tambahan bersih.

Gas alam yang dimaksud sebagian dipasok dari Indonesia dalam total besar. Demikian juga pengaplikasian di area tempat Singapura, meskipun kontrak berakhir tetap menginginkan kelanjutan pasokan gas alam sebagai salah satu sumber energinya. Bahkan negara-negara Eropa Barat begitu bergantung pada pasokan gas alam. Dengan beralihnya sebagian hak pengelolaan Lapangan Masela ke perusahaan negara, maka pasokan gas Indonesia ke depan juga menjadi lebih tinggi tinggi terjamin.

Untuk pasokan lalu pemanfaatan energi hayati, Indonesia lalu Brasil adalah juara dunia. Sekitar sepertiga pasokan BBM untuk mesin diesel di dalam area Indonesia adalah substansi bakar hayati dari minyak sawit, yaitu 13 jt KL dari total 38 jt KL biosolar. Dengan posisi Indonesia yang dimaksud dimaksud juara dalam luas lahan perkebunan sawit kemudian produksi minyak sawit, maka jaminan akan kecukupan pasokan energi hayati dari minyak sawit menjadi tambahan kuat. Demikian juga dengan Brasil sebagai juara dalam produksi gula dari tebu, dalam mana sebagai produksi samping juga dihasilkan mollase yang dimaksud dimaksud selanjutnya diproses menjadi bioetanol untuk substansi bakar. Untuk bensin sebagai BBM, saat ini Indonesia kembali ke peta jalan substansi bakar bersih semula dengan target kandungan bioetanol hingga 5% di tempat tempat tahun 2025 sebagaimana sudah dicanangkan pada tahun 2015.

Reorkestrasi Kebijakan Pasokan Energi Rendah Karbon

Memanfaatkan sumber energi yang tersebut mana tersedia dalam dalam negeri secara optimal menjadi orientasi banyak negara dalam kebijakan pasokan energinya. Pengalaman krisis akibat pandemi serta juga konflik berkepanjangan berakibat pada perubahan rantai pasok yang digunakan hal tersebut sangat besar. Negara-negara Laut Utara mengandalkan tenaga angin untuk menghasilkan listrik yang digunakan hal itu digunakan untuk produksi hidrogen. Mereka mengoptimalkan sumber daya dalam dalam negeri untuk menjaga kehandalan lalu keamanan pasokan energi pada masa dating. Target pasokan hidrogen dalam Inggris Raya dalam bauran energinya mencapai 20-35% dalam tahun 2050.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia lalu negara Timur Tengah yang digunakan hal tersebut kaya dengan pasokan hidrokarbon, terutama gas, saat ini juga sudah mulai membangun prasarana produksi hidrogen dari gas alam sebagai transisi menuju lingkungan sektor ekonomi hidrogen. Sehingga pada saat nanti apabila energi terbarukan sudah ekonomis, dengan Levelized Cost of Ownership yang tersebut digunakan setara energi dari fosil, maka sistem ekologi penyimpanan lalu distribusi hidrogen sudah siap untuk green hydrogen.

Dalam hal Indonesia, cadangan gas yang dimaksud ada serta akan diproduksi mungkin akan lebih tinggi tinggi memberikan manfaat jangka Panjang yang tersebut lebih banyak tinggi besar apabila diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan di dalam area dalam negeri. Permasalahan utama selain aspek teknologi, kemungkinan adalah penyetoran modal infrastruktur transportasi juga distribusi yang mana mana besar. Secara perlahan perlu dibangun kesadaran bersama, bahwa perkembangan infrastruktur kemudian juga habitat industri transportasi gas lalu substansi bakar hayati dalam jangka Panjang akan memberikan dampak sosial perekonomian serta ketahanan energi yang mana lebih besar lanjut baik.

Untuk memenuhi kebutuhan pasokan energi rumah tangga yang mana mana tambahan tinggi murah, diperlukan penyelenggaraan jaringan pipa gas yang dimaksud yang disebut disertai dengan kebijakan tata kota serta kendali tataguna lahan pemukiman. Pasokan LPG yang digunakan sekitar 82% dari impor juga menelan dana subsidi sekitar Rp75 triliun per tahun. Apabila sebagian dana yang digunakan disebut digunakan untuk pendanaan pengembangan jaringan gas rumah tangga, maka target 1 jt sambungan dapat jadi tercapai. Tentunya hal ini perlu didukung dengan kebijakan tata kota yang tersebut dimaksud mengatur pemukiman lalu penyelenggaraan rumah susun serta apartemen di dalam dalam kota, penyelenggaraan jaringan gas lalu lainnya.

Selama ini industri otomotif memberikan sumbangan sekitar 2% PDB. Kontribusi sektor migas terhadap penerimaan negara serta PDB sangat besar. Pendapatan negara dari pajak juga bukan pajak dari sektor migas yang mana besar, bahkan untuk penerimaan migas mencapai 6.3% PDB pada tahun 2020.

Di sisi lain, transportasi perkotaan masih mengandalkan kendaraan pribadi atau kendaraan umum berbahan bakar bensin. Pemanfaatan 10% bioetanol dalam BBM bensin mengurangi emisi GRK sebanyak 8.8%. Bioetanol dapat diandalkan oleh Indonesia, mengingat pemanfaatannya melalui pencampuran dengan bensin yang dimaksud dimaksud banyak digunakan oleh masyarakat. Bensin, saat ini menjadi materi bakar yang dimaksud hal tersebut dapat membantu ketahanan energi sekaligus keterjangkauan energi di dalam tempat Indonesia, akibat tersedia hingga ke daerah terpencil dengan infrastruktur yang mana digunakan memadai.

Namun, kebutuhan lahan perkebunan tebu untuk pasokan bioetanol diperkirakan mencapai dua kali lipat dari luas perkebunan tebu saat ini (dari 470 jt Ha menjadi 700 jt Ha). Hal ini juga akan memperkuat pasokan gula dalam negeri, sekaligus memperbaiki neraca perdagangan Indonesia. Untuk memungkinkan perluasan lahan perkebunan juga juga sistem ekologi bioetanol dalam Indonesia, diperlukan kebijakan terkait pengelolaan gula kemudian juga insentif untuk sektor perkebunan. Selain itu, diharapkan dapat menghasilkan lapangan kerja tambahan di dalam area industri perkebunan juga pengolahan. Saat ini, total tenaga kerja yang dimaksud itu dibutuhkan untuk memproduksi bioetanol sebesar 30.000 KL sebanyak 220 tenaga kerja. Jika, jumlah agregat agregat produksi ditingkatkan 200 kali lipat untuk memenuhi kebutuhan E20 nasional, maka secara paralel kebutuhan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan.

Gas serta bioetanol sangat handal untuk menjaga ketahanan energi Indonesia sekaligus menjadi energi transisi untuk mencapai trilema energi. Indonesia yang digunakan kaya akan sumber daya alam, gas alam juga biofuel dapat dikelola semaksimal mungkin dari hulu ke hilir untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri guna menjaga ketahanan energi. Selain itu, pada tengah proses transisi global menuju energi bersih, gas juga juga biofuel berperan penting sebagai energi transisi dalam mengurangi emisi karbon. Gas lalu biofuel yang mana tambahan ramah lingkungan dibandingkan energi fosil dapat menjadi game changer bagi proses transisi energi di area area Indonesia serta bonus bagi ketahanan energi domestik lalu sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.