Apa itu Kratom, Tanaman yang dimaksud akan Diekspor Zulhas Tapi Dianggap Berbahaya oleh BNN

Apa itu Kratom, Tanaman yang digunakan dimaksud akan Diekspor Zulhas Tapi Dianggap Berbahaya oleh BNN

republicberita.com – Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan atau Zulhas menyetujui ekspor kratom. Namun, tanaman herbal hal tersebut dinilai berbahaya oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Badan Pengawas Obat dan juga Makanan (BPOM). 

“Saya setuju hanya kalau mau ekspor. Boleh, petaninya kan sanggup panen dolar, terima kasih nanti kepada Mendag,” kata Zulhas di dalam kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Kamis, 31 Agustus 2023. 

Apa itu Kratom?

Dilansir dari situs BNN Provinsi Sumatera Selatan, kratom (Mitragyna speciosa) merupakan tanaman yang dimaksud berasal dari wilayah Asia Tenggara. Kratom mempunyai sebutan berbeda pada sebagian negara, misalnya ketum, biak-biak, atau kutuk pada Malaysia, serta kratom, ithang, atau kadam di dalam Thailand. 

Di Indonesia, kratom menjadi tanaman endemik yang tersebut mudah ditemui pada kawasan Kalimantan. Masyarakat setempat selama berabad-abad memanfaatkan tanaman herbal yang sebagai obat alami untuk mengatasi berbagai kesulitan kesehatan. 

Kratom mempunyai karakteristik berbentuk pohon perdu dengan tinggi hingga 15 meter, cabang menyebar lebih tinggi dari 4,5 meter, batang lurus kemudian bercabang, serta bunga berkelompok berwarna kuning serta berbentuk bulat. Daun kratom berwarna hijau gelap, halus, mengkilap, lalu berbentuk bulat telur, dengan panjang bisa jadi mencapai 18 cm dan juga lebar 10 cm. 

Kandungan Kratom

Berdasarkan hasil identifikasi Pusat Laboratorium Narkoba BNN pada 2019, kratom mengandung alkaloid yang digunakan memiliki efek stimulan lalu pada dosis tinggi menyebabkan efek sedatif narkotika (memberikan rasa tenang kepada penggunanya). Sehingga, kratom dianggap menghasilkan efek serupa dengan kokain dan juga morfin. 

Sementara itu, Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Obat-obatan dan juga Kejahatan (UNODC) mengelompokkan kratom sebagai new psychoactive substances (NPS). NPS sendiri dapat didefinisikan sebagai zat yang mana disalahgunakan oleh sebab itu tiada diatur dalam Konvensi Tunggal Narkotika 1961 atau Konvensi Zat Psikotropika 1971. 

Dampak Penggunaan Kratom

Masyarakat biasanya mengonsumsi kratom dengan cara dikunyah seperti menyirih, dibakar atau dihisap seperti rokok, atau diseduh seperti teh. Daun kratom dipercaya dapat meningkatkan stamina tubuh, mengatasi kelelahan, mengobati batuk, meringankan diare, menurunkan tekanan darah tinggi, meredakan gangguan kecemasan lalu depresi, antidiabetes, hingga antimalaria.

Akan tetapi, pemerintah melalui BPOM mengeluarkan Surat Edaran (SE) Kepala BPOM No. HK.04.4.42.421.09.16.1740 Tahun 2016 tentang Pelarangan Penggunaan Mitragyna speciosa (Kratom) dalam Obat Tradisional lalu Suplemen Kesehatan. 

Adapun beberapa dampak penyelenggaraan kratom adalah sebagai berikut. 

1.    Berpotensi menimbulkan kecanduan

Kratom dapat menghasilkan efek samping pada sistem saraf seperti yang mana ditimbulkan oleh beberapa jenis narkotika lainnya, misalnya pusing, depresi, sesak napas, mengantuk, halusinasi lalu delusi, kejang, hingga koma. Jika dikonsumsi secara berkepanjangan, maka efek samping yang mana sanggup ditimbulkan, yaitu mual, diare, insomnia, hipertensi, kejang otot serta nyeri, hingga kerusakan hati. 

2.    Menyebabkan kematian

Konsumsi kratom dinilai dapat mengganggu koordinasi motorik tubuh, sehingga ketika overdosis akan terjadi gejala kejang, koma, sampai kematian. Di Swedia, Krypton (campuran antara kratom serta tramadol) diperjualbelikan secara ilegal serta dilaporkan menyebabkan kematian. 

3.    13 kali tambahan berbahaya dibandingkan morfin

BNN telah dilakukan menetapkan kratom sebagai NPS dan juga merekomendasikannya untuk dikategorikan ke dalam narkotika golongan I sesuai UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. BNN mengemukakan bahwa efek kratom diklaim 13 kali tambahan berbahaya dibandingkan morfin. 

Selain itu, BPOM juga melarang kratom dalam produk-produk obat tradisional, suplemen makanan, obat herbal terstandar, serta fitofarmaka sebagaimana Surat Keputusan (SK) Kepala BPOM No. HK.00.05.23.3644 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen Makanan. 

MELYNDA DWI PUSPITA | BNN

Catatan Redaksi: Tulisan ini pada penjelasan isi ada yang digunakan dihapuskan pada Rabu, 25 Oktober 2023 pukul 0.07 pada bagian efek yang mana dirasakan dari dosis pemakaian. Penghapusan ini agar artikel ini tak disalahgunakan. Terima kasih. Kami mohon maaf atas kelalaian ini.